Hilangnya Cahaya Matahari
Oleh : Rifa Meladiana
“Moshi moshi. F.1910 S.2101”
“Moshi moshi. F.1910 S.2101”
“Hihi J”
“Kenapa ketawa?”
“Ngga tahu. Hihi :p”
“Huh!-,-”
“Yah, Freez jangan ngambek dong!”
“Ngga ngambek, cuma lagi kesal plus ngerasa aneh aja temen chattingku cekikikan ngga karuan.”
“Iya, kayaknya aku sedang agak sedikit aneh malam ini :p.”
“Ngga heran juga sih, kalau penyakit anehmu kambuh lagi.”
“Hahahaha.”
“J”
“Ng...sudah dulu ya, Freez. Aku mau membuat cerpen dulu.”
“Lho kok? Baru saja online.”
“Tapi, cerpenku harus selesai sekarang. Maaf ya.”
“Kamu buru-buru?”
“Iyalah. Kalau ngga buru-buru, ngga mungkin aku pamit sekarang.”
“Kenapa kamu buru-buru?”
“Karena aku belum menyelesaikan cerpenku.”
“Belum sama sekali?”
“Iya.”
“Tumben. Ngga biasanya kamu malam-malam mendadak membuat cerpen. Apalagi sekarang sudah jam 9. Kamu kan ngga kuat begadang. Nanti cerpennya kacau balau lho!”
“Iya, tapi sudahlah. Aku harus segera menyelesaikannya. Pak Sena bilang, cerpen terbaik akan mendapat hadiah darinya. Ini pekerjaan penting. Bukan masalah hadiahnya, tapi aku harus bisa menunjukan kalau aku bisa dan pantas menjadi penulis yang hebat.”
“Kalau kamu mengganggap ini penting, harusnya kamu kerjakan dari tadi.”
“Iya, tenang saja. Aku pasti bisa! Sudah ya, sampai nanti.”
Aku lalu menyudahi perbincanganku dengan Freez, teman yang aku kenal melalui internet setahun yang lalu. Aku tak pernah tahu identitas asli lelaki ini, yang kutahu hanya tanggal ulang tahunnya. Tapi, aku tahu kalau dia lelaki yang baik. Karena dia tak pernah keberatan aku menjaga privasiku dengan ketat. Begitulah, Freez juga tak tahu identitas asliku. Dia hanya tahu tanggal ulang tahunku.
Setiap kami akan memulai perbincangan, kami selalu mengetikan kata sandi kami dulu. Dan saat berbincang dengannya, aku selalu merasa nyaman. Dia juga mau dengan senang hati mendengar curahan hatiku. Sama seperti namanya, Freez yang artinya membekukan. Dia bisa membekukan hatiku kalau aku sedang marah atau kesal. Sama seperti nama samaranku, Sun yang artinya matahari. Matahari yang selalu memberi kesan ceria dan semangat. Aku bisa membakar api semangatnya kala dia sedang putus asa.
Sudah cukup cerita tentang Freez. Aku harus segera menyelesaikan cerpenku. Pak Sena, guru Bahasa Indonesia-ku menugasi aku dan teman sekelasku membuat cerpen. Pak Sena tak akan menilai cerpen tersebut, tapi cerpen itu dinilai oleh siswa sendiri. Jadi, siswa di kelas kami akan membaca cerpen milik teman, lalu seminggu kemudian kami akan memilih cerpen milik siapa yang paling kami suka dan pemungutan suara akan dilakukan. Pemenangnya adalah tentu yang mendapat perolehan suara terbanyak. Guru kami melakukan ini, karena beliau yakin ini cara supaya kami bisa menilai dan menghargai karya orang lain.
Aku merasa yakin aku akan menang. Aku redaktur sebuah majalah yang diterbitkan sekolahku tiap bulannya. Cerpen dan artikelku selalu ada menghiasi majalah itu. Aku sudah cukup terlatih dalam sastra. Teman-temanku juga mengakui kalau tulisan yang aku buat itu bagus.
“Baiklah, Yuki. Ayo mulai bekerja. Kau pasti bisa!” kataku pada diriku sendiri.
***
“Berdasarkan perolehan suara terbanyak, cerpen terbaik adalah....”
Deg deg deg.
Jantungku berdegub kencang menanti jawaban. Mungkinkah cerpen milikku yang akan terlontar dari mulut Pak Sena?
“adalah....”
Deg deg deg deg.
Sudah seminggu berlalu, akankah aku berhasil?
“Selamat Juli! Teman-temanmu mengakui cerpenmu adalah yang terbaik!”
Jleb!
Hatiku serasa ditusuk besi panas. Kenapa harus Juli? Dia baru saja masuk 2 minggu yang lalu! Juli, seorang murid yang baru saja pindah ke sini. Seorang gadis berjilbab berwajah manis dan imut juga bermata indah yang telah membuat hatiku kesal!
Dia telah merebut gelar yang harusnya jadi milikku! Bukan hanya itu, seminggu yang lalu dia mendadak menjadi terkenal dan gara-gara itu aku merasa sudah tak dianggap lagi. Semua orang mulai melupakanku dan mengalihkan perhatiannya pada Juli.
Contohnya saja, saat nilai ulangan IPS milik Juli lebih besar dariku. Dia lalu mendapat pujian karena biasanya nilai IPS-ku selalu yang tertinggi di kelas. Tapi, dia bisa mengalakanku dengan mudah. Tadinya aku mau mengucapkan selamat untuknya karena aku mau bersaing secara sehat. Tapi dia lalu berkata, “Ah, tidak. Aku ngga sehebat itu kok! Yang hebat itu Yuki. Ya kan?” Bangkunya berada di seberang bangkuku, tentu aku dapat mendengarnya. Sombong sekali dia bicara begitu, padahal dia tahu nilaiku lebih rendah darinya. Aku tahu maksud ucapannya itu untuk menyindirku! Huh!
Selain itu, masih banyak lagi contohnya dan aku tak sanggup menjelaskan semuanya. Itu membuat hatiku sakit!
Teng teng teng.
Akhirnya bel istirahat berbunyi juga. Aku ingin menenangkan diri dulu. Hatiku masih terasa panas. Aku lalu pergi ke toilet, mencuci muka lalu masuk ke salah satu bilik untuk buang air kecil. Selesainya buang air kecil dan hendak keluar, tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu.
“Sarah, tadi kamu milih cerpen punya siapa?”
“Pasti aku pilih cerpennya Juli dong! Kalau kamu?”
“Sudah pasti aku pilih Juli.”
“Oh ya? Kupikir kamu akan pilih Yuki, dia kan teman sebangkumu, Nia.”
“Iya, sih. Tapi aku suka cerpen cinta romantis milik Juli. Pokoknya keren, bikin jantungku berdebar.”
“Iya, suasananya benar-benar tercipta! Gara-gara itu jantungku ikut berdebar. Rasanya aku seperti si tokoh utama saja. Oh ya, apa menurutmu Juli lebih baik dari Yuki?”
“Tentu saja, Juli jauh lebih baik. Cerpen punya Yuki itu membosankan. Terus ngga bisa bikin jantung berdebar kayak cerpen cinta romantis punya Juli.”
“Iya, betul. Terus, kenapa ya, kita dulu begitu mengagumi cerpennya ya?”
“Kita hanya kagum saja pada cerpen Yuki. Tapi kalau punya Juli, kita benar-benar suka, bukan hanya sekedar kagum.”
“Iya, lagipula kita mengaguminya karena cuma Yuki yang menyodori kita cerpen. Dia mendapat pujian karena ngga ada orang lain selain dia. Karena dia ngga punya saingan! Itu ngga fair kan? Dia itu pengecut!”
“Coba Juli bersama kita dari dulu, kita jadi tak usah repot-repot membaca cerpen punya Yuki.”
“Iya, ya. Eh, sudah kita ke kantin saja yuk! Aku lapar.”
“Ayo.”
Suara mereka lalu tak terdengar lagi. Bahkan rasanya sudah tak ada orang lagi di sini selain aku. Aku lalu keluar bilik, pergi ke wastafel dan menyiram mukaku.
“Argh...!!!!” teriakku melampiaskan kekesalan.
Aku sungguh tak percaya apa yang baru saja kudengar. Aku pengecut? Jadi selama ini, pujian yang mereka berikan untukku tak datang dari hati mereka? Tega sekali mereka mengkhianatiku dan menusukku dari belakang!
Ini semua gara-gara Juli! Apa bagusnya dia! Cerpen cinta? Aku juga bisa! Cuma begitu saja, aku ngga akan kalah! Untukmu, Juli, kehidupan indahmu cukup sampai di sini saja! Aku akan merebut kembali semua pujian itu!
***
“Ini ngga menarik. Walau ada adegan romantis, ceritanya ngga hidup. Ngga bikin jantung berdebar,” komentar Sarah.
“Iya, alurnya juga loncat alias ngga mengalir seperti air,” Milly menimpali.
“Iya,nih. Masa tiba-tiba saja dia jadi suka sama tokoh utama. Watak karakternya ngga tercipta,” tambah Nia.
“Masa sih?” tanyaku tak percaya.
“Iya, coba kamu baca lagi,” usul Nia.
Aku lalu membaca ulang cerpenku dengan cermat. Setelah dipikir-pikir, benar juga komentar mereka.
Milly lalu pamit padaku, “Ah, aku baru ingat. Ada tugas kelompok yang harus kami kerjakan. Sudah dulu ya, kami harus menemui Juli, ketua kelompok kami.”
“Kerja bagus Yuki, kamu malah membuat hidup Juli semakin indah,” gerutuku dalam hati. Otakku kini tengah berpikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa menang dari Juli? Dia selalu saja mendapat perhatian banyak orang. Sedangkan aku? Aku justru mulai dilupakan.
“Hei, majalah edisi bulan ini sudah terbit. Ini silakan ambil,” seru ketua kelas kami, Franki seraya menaruh setumpuk majalah dibangku Milly yang letaknya di barisan paling depan. Aku lalu pergi mengambil satu majalah.
“Yuki, kamu kok ngga ada di foto ini?” tanya Joe.
“Apa? Foto apa?” aku balik bertanya.
“Coba kamu buka rubrik ‘Behind The Redaksi’. Itu bukannya foto pengurus majalah, tapi kok kamu ngga ada?”
Aku lalu membuka rubrik yang dimaksud Joe. Dan...ternyata benar apa yang dikatakannya. Itu foto pengurus majalah! Bukan hanya itu, bahkan pengurus jurnalis pun ikut bergabung dalam foto itu. Dalam foto itu semua pengurus majalah dan pengurus ekskul jurnalis lengkap mulai dari pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, koordinator jurnalis, sekretaris jurnalis, bendahara jurnalis, juga 7 orang jabrik (penanggungjawab rubrik). Hanya aku seorang yang tak ada di sana.
“Yuki?”
“Oh, aku sudah keluar dari jurnalis beberapa waktu lalu,” jawabku bohong. Aku lalu berlari keluar kelas. Aku berlari menuju taman belakang sekolah, mencoba menenangkan diriku di sana. Aku merasa kesal dan hatiku terasa amat sakit. Aku tak diakui oleh mereka!
Sebenarnya aku masih menjabat sebagai redaktur. Tapi, mereka sama sekali tidak memberi tahu apa-apa tentang rubrik ini. Aku ini seorang redaktur, aku harusnya ada di sana! Sudah satu tahun kami bersama menjadi pengurus majalah. Selama itu, kami sering membicarakan tentang impian kami yang indah. Dengan mata berbinar penuh keinginan untuk menggapai impian kami.
Padahal aku sudah bekerja keras agar majalah ini semakin maju. Aku bahkan rela ditinggal teman-teman sekelasku pergi karaoke agar aku bisa ikut dalam rapat redaksi. Dalam rapat aku juga sering mengemukakan ideku. Saat majalah mendapat kritikan atau ejekan, kami sama-sama merasakan kepedihan yang sama. Dan saat orang lain bermain, kami justru tengah sibuk mengedit naskah.
Suka duka telah kami lalui. Aku pikir mereka akan menganggapku teman mereka. Tapi ternyata aku salah. Kini, mereka melupakanku. Dengan begitu mudahnya mereka melupakan aku dan perjuanganku!
***
Kurebahkan tubuhku di atas kasur, menatap langit-langit rumah. Masih terasa rasa sakit karena dikhianati dan dilupakan. Sudah tak ada lagi yang mau melihatku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa hancur!
Aku lalu menyalakan komputer di kamarku. Mencoba menghilangkan sedikit rasa sakit ini. Kini, komputer telah menyala dan aku mulai berselancar di dunia maya.
“Moshi moshi. F.1910 S.2101”
“Ng? Ada yang mengirimku pesan di chatt?” gumamku. Ah, itu Freez! Dengan cepat aku membalasnya.
“Moshi moshi. F.1910 S.2101”
“Akhirnya kamu online juga. Aku rindu padamu.”
“Rindu?”
“Iya, rindu pada teman terbaikku yang tiba-tiba saja melupakanku beberapa hari yang lalu.”
Deg! Apa? Ternyata aku bukan hanya dilupakan, tapi aku tega melupakan teman yang selalu ada untukku.
“Maaf :’(”
“Iya, tak apa. Yang penting kamu sudah ada lagi.”
“Freez, maukah kau membaca ceritaku?”
“Tentu J”
Aku lalu mengetikan semua hal menyakitkan yang kualami dari mulai masalah Juli sampai masalah pengurus majalah. Freez lalu menanggapinya dengan serius. Dia lalu menginngatkanku bahwa aku sudah berubah. Kalau cerpenku yang waktu itu, tak kubuat setulus hati. Itu semua datang dari emosiku yang saat itu sedang kesal dengan Juli. Dan untuk masalah pengurus majalah...siapa peduli! Aku sudah memutuskan keluar. Untuk apa aku susah payah berada di tempat dimana tak ada yang mau mengakuiku. Lebih baik aku mencari tempat dimana ada yang mau mengakuiku dan kerja kerasku.
“Terima kasih Freez J”
“Sama-sama Sun J”
“Aku...aku akan berjuang!”
“Aku senang kau telah kembali seperti semula. Kini, aku bisa merasakan hangatnya cahayamu.”
“Terima kasih J”
Kami lalu menyudahi perbincangan kami. Tenang saja, besok aku akan kembali dengan cahayaku. Cahaya penuh semangatku!
O ya, tentang cerpen cinta....Aku juga ingin membuatnya. Aku akan membuatnya sepenuh hati untukmu, Freez. Satu-satunya orang yang membuatku merasa nyaman. Orang yang telah mengembalikan cahayaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar